Selasa, 01 September 2020

Tak Puas? Putuskan Saja Hubungan dengan Penjual

Sumber foto: Google


Kali ini H yang akan curhat tentang pedagang yang sombong. 

Pembeli adalah raja, begitu ungkapan yang sering kita dengar. Tapi tak semua penjual  memperlakukan pembeli seperti raja. Beberapa kali hal ini saya alami. Marah atau komplain? Ah percuma saja menghabiskan energi untuk itu. Mending kita balas dengan cara tidak lagi membeli barang dagangan mereka. Emang ada pengaruhnya? Terserah deh, mau ada pengaruhnya atau tidak. Jangan beli barang mereka, itu saja yang saya lakukan.


Penjual Bakso yang Rasis???

Penjual bakso ini baru buka warung bakso di dalam kompleks perumahan kami (sebut saja si Manung, penjual bakso ini sering termanung eh termenung). Kami pernah sekali beli di sana untuk dimakan di rumah. Rasanya biasa saja, tidak ada yang istimewa.

Kali ini kami (saya dan suami) mampir dan ingin coba makan di sana. 

"Bang, bakso dua porsi, makan di sini."

"Baksonya habis."

"Oh...," gumam suamiku.

Padahal kami lihat di etalase gerobaknya masih ada mie, bihun, sayur, dan juga bakso. Apakah ada yang pesan banyak untuk dibungkus? Entahlah. Kami berdua pindah ke warung bakso lain, di luar kompleks.

Saat pulang, kami melewati warung bakso si Manung. Eh... ternyata ada yanag sedang makan bakso di sana. Hmmm ... ada yang tidak beres nih. Kalau tadi habis, kok sekarang ada? Kalau tadi habis dan ia mau pulang ambil lagi, mestinya ngomong, "Pak baksonya habis, kalau mau tunggu sebentar, silakan. Sebentar lagi istri saya akan ke sini bawa bakso."

Entahlah apa maksudnya menolak kami makan bakso di sana. Memang sih kami dan penjual bakso itu beda suku. 

Sekian tahun berlalu, warung bakso itu sekarang sudah pindah dari tempat semula (ke tempat yang lebih terpencil dan tak terlihat jika orang melintas di kompleks perumahan). Otomatis dagangannya sekarang lebih sepi. Sementara di dekat tempat lamanya, sekarang ada pedagan bakso baru, bakso Solo. Kami pernah beli di sana dan sampai sekarang langganan.

Buat si Manung, penjual bakso yang menolak kami makan di tempat, jangan khawatir Bang. Kami selamanya tidak akan pernah beli bakso di tempat Anda.


Penjual Bubur yang Menipu

Penjual bubur ini setiap pagi pasti lewat depan rumah, sebut saja namanya Bang Dewo. Sesekali kami beli buburnya untuk sarapan. 

Nah pengalaman yang tidak menyenangkan terjadi pada hari Minggu. Di belakang kompleks perumahan kami ada tempat yang dijadikan pasar kaget. Ada aneka dagangan di sana (pakaian, jajanan, lauk matang, sayur mentah, daging, ikan, dan lain-lain). Nah Bang Dewo juga jualan bubur di sana. 

Karena sudah langganan, kami langsung saja duduk dan pesan dua porsi. Kalau lewat depan rumah, harga bubur per porsi Rp 3.000 (ini sekian tahun yang lalu). Harga saat itu memang Rp 3.000 per posri. Kebiasaan kami, sebelum pesan makanan, biasanya kami tanya harga dulu. Tapi karena ini sudah langganan, kami yakin nggak bakal mahal. Kalaupun naik, paling Rp 3.500 atau Rp 4.000 per porsi. Watu itu kami pesan bubur ayam biasa (tidak pakai telur, hati ampela, dan lain-lain). Hanya pesan bubur bisa.

Selesai makan, kami tanya, "Bang berapa?" 

"Dua belas ribu..." kata Bang Dewo, sambil berjalan pergi untuk mengantar pesanan pembeli lain yang duduk agak jauh.

"Bang, berapa," tanya sang istri yang terlihat ragu dengan harga Rp 6.000 per porsi.

"Dua belas ribu ..." kata suaminya.

Kami pun membayarnya, meski gemas dan ingin tanya apa nggak salah hargnya Rp 6.000 per porsi. Sebenarnya kami yakin, orang lain yang makan di sana tak mungkin diminta bayar Rp 6.000 per porsi. Tapi ya sudahlah, anggap saja apes karena tidak tanya dulu.

Sejak saat itu, kami tidak pernah lagi beli buburnya, meski ia tiap hari lewat depan rumah kami. Dan kebetulan di kompleks perumahan kami ada beberapa penjual bubur. Kami tidak akan beli buburnya lagi karena dendam? "Tidak juga kata suami saya. Selama masih ada orang lain yang jual bubur, kami pasti beli dari orang lain. Kecuali, di dunia ini hanya dia penjual bubur, kita sedang sangat lapar, dan tidak ada penjual makanan lain, pasti kami akan beli bubur Bang Dewo."


Pemilik Warung yang Sombong

Kali ini tentang pemilik warung yang sombong. Sebenarnya Pak Nono adalah warga baru di kompleks perumahan kami. Warungnya lumayan lengkap dan ada fasilitas delivery. Pesan barang besar seperti gas dan air galon, bisa diantar dengan tambahan Rp 1.000 per item.

Selama ini kalau beli gas dan galon ambil sendiri karena warung langganan kami dulu tak ada jasa antar. Jadilah kami pesan dari warung Pak Nono.

Menurut kami, kami adalah pelanggan yang baik, tidak rewel. Selalu bayar tunai, tidak masalah pesanan diantar agak lambat, dan seringnya kalau pesan galon atau gas, sering ada tambah pesan barang lain juga. Suatu hari, ada sedikit masalah. Setelah antar air galon pesanan kami, karyawannya langsung pergi (saya belum sempat hitung uang kembalian). Pas hitung, uang kembalian kurang Rp 6.000. Maka saya langsung kirim pesan via WA, uang kembaliannya kurang. Tidak ada respon, saya coba telepon. Waktu ditelepon, tampaknya Pak Nono sedang sibuk, dia hanya menjawab, "Tadi uang karyawannya sudah bawa uang kembalian pas."

Sorenya, besok, lusa, sama sekali tidak ada respon atas komplain kami. Uangnya sih tak seberapa, hanya Rp 6.000. Tapi responnya menurut kami tidak bagus untuk melayani seorang pelanggan lama.

Akhirnya kami putuskan tidak lagi pesan galon dan gas dari warung Pak Nono. Air galon kami pesan langsung dari agen. Gas kami pesan dari warung lain. Pelayanan tidak baik, pindah saja deh.

Karyawan Teladan dan Super Kreatif???

Saya terima WA dari nomor:  0856 2422 4935  , isinya seperti ini:   Selamat Pagi... Semoga Bapak/ibu sekeluarga Selalu diberikan kesehatan D...